Konsep Pengobatan Dalam Ayurveda


Ayurveda berasal dari kata Sansekerta, ayur berarti kehidupan dan veda berarti pengetahuan. Pengetahuan yang disusun secara sistematis dengan logika menjadi ilmu pengetahuan. Ayurveda adalah Ilmu Pengetahuan tentang kehidupan.

Ayurveda adalah ilmu yang mencakup seluruh hidup, tubuh, pikiran dan jiwa kita. Ayurveda didasarkan pada prinsip-prinsip ilmiah diagnosis dan pengobatan. Menurut Ayurveda, kesehatan adalah kondisi seimbang dari tubuh, jiwa, pikiran dan lingkungan.
Ayurvedic adalah penyembuhan dengan pendekatan tanaman obat, yang merupakan metode unik yang holistik untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan melalui tahapan: Pembersihan (cleansing), Peremajaan sel (rejuvenasi) dan Penyembuhan (managing disease).

Tujuan mempraktikan Ayurvedic adalah mencapai sehat secara holistic : sehat lahir, sehat batin/psikologis, dan sehat spiritual dengan jalan meningkatkan kualitas hidup kita. Sehat dicapai dengan mencapai keseimbangan, dan mengobati bila terjadi ketidakseimbangan.

Konsep Dasar Ayurveda

Pada umumnya dalam pengobatan ayurveda penyebab penyakit karena tidak seimbangnya unsur-unsur yang ada di dalam tubuh yang dikenal dengan unsur Tri Dhosa.
Tri Dhosa berasal dari kata Sansekerta, yang berakar dari kata Tri dan Dosha. Tri artinya tiga dan Dosha yang asal katanya Dhus, Dhus berarti melemahkan, atau merusak yang lain atau bisa juga diterjemahkan merusak keseimbangan dan keharmonisan badan. Tubuh menjadi lemah akibat berubahnya atau rusaknya keseimbangan sehingga Raga yang semula sehat menjadi sakit.

Tri dosha terdiri dari: Vatta (angin atau udara atau akasa), Pitta (Empedu atau panas atau teja) dan Kapha (Lendir atau air atau apah atau pertiwi). Didalam tubuh yang sehat ketiga unsur ini selalu ada, yang sangat berperanan penting dalam aktifitas tubuh, harus dalam keadaan sehat ataupun normal.

Kalau keseimbangan ketiga unsur Tri Dhosa ini selalu berada dalam keadaan seimbang. kalau terganggu oleh berbagai sebab baik yang berasal dari badan diri sendiri maupun dari luar tubuh. Untuk penyembuhannya agar tubuh kembali sehat harus mengembalikan keseimbangan ketiga unsur tersebut seperti keadaan semula.

1. Vatta

Vata adalah kekuatan konseptual yang terdiri dari elemen eter (space) dan udara.Dibentuk dari yang bersifat mirip udara, gas atau angin. Yang memiliki berepa cirri khas sebagai sifat seprti ringan, kering, dingin, sejuk, sifatnya bergerak atau menggerakan. Angin atau udara ini sebagai sumber energy (melalui gerak, napas) dan membantu pengeluaran ekskreta (berak, kencing, keringat) serta penyalur rangsangan dalam saraf. Memiliki fungsi didalam tubuh sebagai penerima rangsangan sensorik dan motorik dan membantu metabolism jaringan serta mengatur fungsi hidup, termasuk janin.

Kita bisa rasakan didalam tubuh bila keadaan vata dalam tubuh tidak seimbang dengan ciri-ciri sebagai berikut: tubuh terasa kemasukan angin, tidak dapat mempertahankan posisi tubuh dengan benar (sempoyongan), kurang kreatif/gembira, terasa haus, terasa mengigil, beberapa bagian tubuh gemetar/ tremor, badan sakit atau meriang diseluruh tubuh terasa ada angin dingin, kulit terasa kasar, badan terasa dingin, terasa pahit atau sepet dilidah, terasa ada pengkerutan (kulit, otot dan saraf), tidak bergairah, nafsu bicara kurang, gerakan tubuh kurang terkendali.

Penyebab penyakit pada vata ini dikarenakan makan atau minum yang terlalu asam, aktivitas berlebihan/kelelahan, luka parah, berhujan-hujanan, sering menahan keluarnya ekskreta (kencing, berak) atau bisa juga terlalu lama duduk. Biasanya sakit ini sering muncul pada musin angin, hujan, dingin, dipagi hari (menjelang pagi), menjelang malam, bahkan bisa setelah makan.

Tempat yang mendominasi vata pada usus besar, kandung kencing, panggul/persendiaan, telinga, tulang, dll. Unsur vata ini adalah hal yang paling utama didalam tri dosha. Sistem kerjanya cepat dan mandiri, serta memiliki pengaruh yang kuat dibandingkan pitta dan kapha.

Penyakit yang ditimbulkan berupa penyakit sebaa atau dumelada (vatha): ini akan muncul bila bayu atau angin (pada ruang / eter) dalam tubuh meningkat.

Obatnya dari tanaman obat yang memiliki rasa ambar, pada umumnya memiliki aneka warna bunga. Contoh ramuan untuk mengatasi sakit karena angin (vata): Kulit (babakan) ranting dapdap dicampur dengan ketumbar bolong, garam ireng, (uyah areng), cara membuatnya diulek atau dilumatkan lalu disaring untuk diminum airnya setengah gelas 3x sehari.

Sebaiknya juga punggung dikerok menggunakan uang logam yang dibasahi minyak kelapa yang dicampur dengan perasan air jahe merah.

2. Pitta

Pitta adalah sebuah kekuatan yang diciptakan oleh interaksi dinamis antara air dan api. Pitta Berfungsi sebagai pembakar atau mencerna atau bertugas mengontrol dan bertanggung jawab terhadap semua metabolisme fisika-kimia didalam tubuh.

Area  kerjanya pada daerah pencernaan, menyerap makanan, pada hati dan limfa sebagai pemberi warna makanan, pada jantung pemberi keinginan dan kerinduan dan pada mata pemberi warna dan bentuk objek serta pada kulit sebagai pemberi panas atau pelumas dari cahaya.  Ditandai dengan ensim meningkat, lapar, tubuh terasa ringan.

Gangguan-ganggan unsur pada pitta ini biasanya akibat dari makan tidak teratur, puasa, asam, asin, pedas, panas, banyak lemak, hasil permentasi tuak/arak/tape, buah yang rasanya asam. Mengakibatkan suhu tubuh tidak setabil, kekuatan mencerna serta metabolisme terganggu, kurang bergairah, bisa juga terasa terbakar pada organ tubuh, sakit seperti diisap dan terasa panas.

Penyakit karena panas (Pitta): ini akan muncul bilateja atau agni atau api atau panas dalam tubuh mendominasi. Obatnya bisa berupa ramuan yang memiliki sifat tis (kapha) atau mendinginkan yaitu tanaman obat yang memiliki rasa pahit dan dan nyem,

Contoh ramuan: siapkan akar kliki jarak digerus halus lalu  diisi dengan sedikit asam ireng (lunak tanek), sedikit temutis, semua ramuan itu dilumatkan untuk diambil airnya, lalu diminum sebagai loloh. Ampas atau sisa saringan bisa ditambah dengan bawang merah dan sedikit adas untuk dipakai boreh disekitar bawah perut (sisikan), ini sangat bagus untuk sakit anyang-anyangan atau kencing seret karena perut panas.

Bisa juga menggunakan resep lain berupa daun miana cemeng sekitar 15 lembar direbus lalu ditambahkan dengan 1 sendok minyak kelapa tanusan lalu diminum 3x sehari.

Ramuan lain bisa juga kelapa gading muda (kuhud nyuh gading) dipotong ujungnya sampai ketemu airnya, lalu dipanaskan / dipanggang pada bara api, setelah panas airnya dicampurkan dengan telor ayam kampung lalu diminum dalam keadaan hangat-hangat, dagingnya kelapa muda tersebut juga dimakan.

Untuk boreh bisa dibikinkan dengan ramuan dari daun liligundi diulek pakai lulur ditambah sedikit minyak kelapa lalu dipanaskan (didadah) untuk dipakai boreh atau lulur. Atau bisa juga dengan memakai daun sembung dicampur dengan buah pisang batu, asam ireng (lunak tanek), 2 iris isen (laos), semua bahan tersebut dilumatkan halus bisa tambahkan sedikit air, diperas lalu diminum 3xsehari masing-masing satu glass.

3. Kapha

Kapha adalah mewakili konsep keseimbangan antara air dan bumi. Dibentuk dari zat cair seperti air + mineral. Berfungsi sebagai cairan inter dan intra sellular didalam dan diluar sel.

Zat Kapha ini dominan menempati pada rongga-rongga atau celah-celah tubuh seperti perut, lambung, rongga dada, paru, tenggorokan, kepala, jantung, hidung, mulut, lendir, cairan tubuh, cairan sendi. Pada rongga lambung bertugas membasahi atau merendam makanan sehingga makanan mudah menjadi pasta.

Pada otot membantu kontraksi otot tonus dalam pergerakannya. Pada mulut atau lidah sebagai pengecap sad rasa (manis, masam, asin, pedas, pahit dan sepet). Pada kepala sebagai alat pengindra, pengingat dan perasa. pada sendi bertugas sebagai pemelihara pergerakan sendi serta pada kulit sebagai pelumas atau meminyaki kulit agar kulit terlihat mulus (tidak kusam).

Gangguan pada unsur kapha seperti badan terasa dingin berair dan agak berat, kurang merasakan sakit atau saraf kurang peka, gatal-gatal pada kulit dan terasa kurang berminyak, terasa kosong diperut atau kolon, sendi terasa lepas, pengeluaran ekskresi berlebihan, reaksi suhu tubuh terhadap suhu lingkungan menurun, flue,  bersin-bersin.

Biasanya penyakit ini dominan muncul pada pagi hari setelah matahari terbit, sore hari setelah matahari terbenam. Penyakit yang ditimbulkan berupa penyakit nyem atau dingin (kapha): ini akan muncul bila apah atau air didalam tubuh meningkat.

Obatnya berupa bahan dari yang bersifat panas atau hangat yaitu tanaman obat yang memiliki rasa manis dan asam, pada umumnya dari tanaman obat yang memiliki bunga berwarna putih, kuning dan hijau. Biasanya dibuat ramuan dengan bahan dari daun jinten (5 lembar), caranya cuci bersih daun jinten tersebut, kemudian dihaluskan, setelah halus dimasukan (seduh) dengan 1/2 gelas air panas,lengkuas yang sudah diiris-iris, 20 gram jahe yang telah diiris-iris, 2 batang serai, 10 butir cengkih, 6 butir kapulaga, dan gula aren secukupnya.

Cara Pembuatan: rebus bahan tersebut dengan 2 glas air hingga tersisa 1 glass, disaring, kemudian siap diminum selagi hangat, 3 kali sehari.

Konsep Dasar Pengobatan Ayurveda

Dalam pengobatan menekankan adanya keseimbangan sistem organ-organ tubuh. Dalam keadaan tertentu racun terus meningkat dalam tubuh dan menyebabkan timbulnya berbagai penyakit, sehingga kita harus mengeluarkannya dari dalam tubuh kita. Pembersihan racun dari dalam tubuh kita dapat dilakukan dengan berbagai cara:

  1. Balancing, mensuplai nutrisi yang seimbang ke dalam tubuh. Nutrisi yang dibutuhkan dalam tubuh dapat kita penuhi dengan pola makan yang baik yaitu 4 sehat 5 sempurna. Nutrisi yang seimbang sangat dibutuhkan sel tubuh untuk terus beraktivitas, seperti vitamin, mineral, serat (fiber) dan zat gizi lain yang dibutuhkan oleh tubuh kita untuk melancarkan, menyeimbangkan sistem hormonal serta keseimbangan asam-basa dalam tubuh.
  2. Activating, mengaktifkan sel tubuh untuk mengoptimalkan penyerapan nutrisi dalam tubuh. Dengan meningkatkan pemasukan nutrisi ke dalam sel tubuh dan sel darah, membantu regenerasi sel darah merah dan meningkatkan kadar oksigen dalam darah, menghambat proses oksidasi dan menstimulasi regenerasi sel organ tubuh untuka) berkerja secara optimal dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh terhadap berbagai penyakit.
  3. Defending, meningkatkan sistem pertahanan tubuh. Dengan merangsang sel tubuh untuk membentuk antibodi dalam membantu mempertahankan tubuh dari bahaya radikal bebas dan serangan penyakit, juga turut berperan dalam menjaga kesehatan.

Jenis terapi yang dipakai dalam Ayurveda

Menyeimbangan dengan teknik pemijatan mengunakan minyak dengan ramuan herbal yang dibuat secara traditional dari berbagai ramuan yang memiliki efek hangat yang mampu menstimulasi keseimbangan unsur Pitha (api), Kapha (Angin) dan Vatta (Air) yang ada di dalam tubuh. Melakukan aktivitas gerak yoga, dengan tujuan agar mau keluar keringat.

Dengan bergerak, detak jantung akan meningkat dan menyebabkan keluarnya toxin tubuh berupa keringat atau toxin lainnya, akan lebih mudah masuk kesaluran pembuangan (urine , feces), sehingga badan akan merasa agak ringan, badan lebih fleksible, dan lebih bertenaga.

Pengobatan yang menggunakan uap dari herbal yang dipanaskan. Herbal dididihkan lalu disalurkan dengan pipa menuju ke beberapa bagian tubuh, terutama otot-otot, tulang belakang, pinggul, persendian lutut dan bagian lainnya dari tubuh yang menimbulkan rasa hangat menyegarkan serta cukup baik untuk mengilangkan rasa tegang, atau kalau fasilitas memadai dengan sistem steam bath yaitu mandi uap panas, dimana badan dimasukkan ke suatu ruangan yang telah diuapi dengan ramuan herbal yang telah dipanaskan dengan suhu yang panas, sehingga keringat keluar bersama toksin yang ada.Pemijatan Bola Ball yang agak lembut mengunakan minyak herbal untuk penyeimbangan panas, dingin dan lembab di dalam tubuh.

Suatu herbal yang dicampurkan dengan sebagai herbal nutrisi. Herbal yang agak panas ini dibungkus dengan kain yang agak lembut, kemudian digosokkan pada badan dan difokuskan pada persendian dan otot-otot tubuh.

Pengobatan dengan tenaga Prana, Kesadaran manusialah yang melakukan “Transformation Fourier” (sebuah konsep matematika yang dapat memetakan semua proses fisik di alam dalam bentuk frekuensi dan amplituda serta kelipatannya) agar dapat mewujudkan informasi tersebut ke dalam ruang dan waktu. Penjabaran lebih lanjut model ini adalah kesadaran manusia (pikiran) dapat mengambil semua getaran yang ada di alam.

Kemudian melalui proses transformasi tenaga prana, abstraksi dapat diwujudkan ke dalam ruang dan waktu. Karena pikiran dan perasaan kita adalah pemicu dan pengarah energi, maka kita harus membiasakan diri untuk berpikir dan berperasaan positif; penuh cinta kasih, kebahagiaan. Bahkan bukan hanya pada saat penyembuhan, tetapi setiap saat, setiap detik dalam hidup kita.

Dengan demikian maka tubuh penyembuh akan menjadi bersih energinya, mudah menjadi penyalur energi Ilahi. Therapy Akupuntur, Penusukan titik akupunktur akan memberikan efek pada tempat perangsangan maupun di tempat yang jauh dari tempat perangsangan melalui jalur persarafan (saraf tepi dan pusat), neurohumoraldan meridian. Jarum yang digunakan adalah jarum akupunktur yang sekali pakai untuk menghindari infeksi dan penularan penyakit.

Rangsangan akupuntur→merengsang sistem imun tubuh →membentuk reaksi antigen-antibody→yang membuat sistem saraf memberi feed back→dengan dikeluarkannya suatu hormon. Akupunktur relatif tidak menimbulkan efek samping.

Efek samping akupunktur sangat minimal. Efek samping yang jarang terjadi adalah hematom (bengkak ringan) terjadi hanya dibawah 5%, dan nyeri di tempat penusukan (tergantung dari sensitifitas seseorang). Rasa nyeri, sedikit ngilu/ pegal pada umumnya tidak berarti, sebagai tanda terangsangnya sistem persarafan. Untuk hasil yang optimal, akupunktur umumnya dilakukan 2 kali seminggu (tergantung keadaan penyakit) sampai mencapai hasil yang diinginkan.

Manfaat Ayurvedic bagi Kesehatan

Ayurvedic sebagai sistem pengobatan kuno Veda yang masih digunakan sampai saat ini. Kini telah banyak dokter yang tertarik untuk mencoba pengobatan holistik, suatu bentuk yang melibatkan kondisi tubuh, mental, sosial lingkungan dan bahkan hingga dimensi spiritual yang akan mengungkapkan faktor-faktor yang memicu suatu penyakit.

Nutrisi yang baik dan seimbang serta olahraga teratur (Yoga Asana) menjadi sangat penting bagi pengobatan holistik. Tetapi kestabilan emosi dan spiritual juga harus diperhatikan sehingga kondisi yang optimal akan tercipta. Terapi alternatif difokuskan untuk meningkatkan proses penyembuhan sendiri, untuk memperbaiki keselarasan antara gerak tubuh dan elemen biokimia dari tubuh, pikiran dan emosi.

Berikut beberapa manfaat dari melakukan Ayurveda itu sendiri:

  1. Meningkatkan Imunitas – Sistem kekebalan tubuh adalah mekanisme pertahanan alami tubuh yang membantu dalam memerangi bakteri penyebab penyakit dan virus. Dalam pengobatan Ayurveda, atau pengobatan rumah Ayurvedic menggunakan banyak bumbu dan minyak yang dicampur bersama-sama untuk menciptakan tonik yang meningkatkan nafsu makan dan memperkuat sistem pertahanan tubuh.
  2. Penyembuhan secara lengkap – Persiapan ramuan dikelola oleh praktisi bantuan Ayurvedic dalam menyembuhkan penyakit dari akar bersama dengan gejala. Perawatan juga melibatkan perubahan gaya hidup dan peningkatan kegiatan fisik.
  3. Menghilangkan Stres – Stres adalah salah satu alasan utama kesehatan yang buruk dan tonik, terapi dan pijat yang terlibat dalam pengobatan Ayurvedic membantu dalam mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan fisik dengan menyeimbangkan mood dan mewujudkan harmoni antara jiwa dan tubuh,
  4. Memurnikan Tubuh – Bertujuan untuk membersihkan tubuh dari racun dan mempertahankan keseimbangan adalah tujuan dasar dari Ayurveda. Obat-obatan Ayurvedic dan tonik mempromosikan pembersihan menyeluruh dari dalam untuk meningkatkan kesehatan 1) secara keseluruhan. Panchakarma adalah terapi Ayurvedic pembersihan yang paling efektif.
  5. Menjaga keseluruhan Neraca – Salah satu manfaat terbesar dari pengobatan Ayurvedic adalah membantu mencapai keseimbangan keseluruhan energi dalam tubuh. tubuh dipengaruhi oleh akumulasi racun dan Ayurveda membantu dalam pembersihan dan menghapus kotoran tersebut.

Jenis Tanaman Obat dalam Ayurvedic:

  1. Lidah buaya. Lidah buaya banyak digunakan untuk mengobati gangguan pencernaan seperti asam lambung, kembung, sembelit, kehilangan selera makan, dan terlalu cepat lapar. Untuk mendapatkan manfaat lidah buaya sebagai obat pencernaan, lidah buaya dihancurkan lalu diminum. Bisa juga rebus dan ditambahkan susu untuk meningkatkan energi. Selain itu, lidah buaya juga bisa digunakan untuk mengatasi pembengkakan dan nyeri sendi. Caranya, campurkan bubuk kunyit dengan lidah buaya, lalu panaskan dengan api dan oles pada sendi yang bengkak dan sakit.
  2. Tulsi. Dalam pengobatan Ayurveda, tulsi kerap disebut sebagai kemangi suci. Tulsi dipercaya memiliki sifat antiasma dan antiinfeksi, sehingga banyak digunakan untuk mengatasi gangguan pernapasan dan demam serta dapat meningkatkan imunitas tubuh termasuk membuat organ pernapasan lebih resisten terhadap penyakit.
  3. Bawang putih. Dalam Ayurveda, bawang putih dipercaya sebagai herbal yang bermanfaat sebagai stimulan dan peremajaan. Bawang putih juga mengandung banyak senyawa bioaktif yang dipercaya dapat membantu mengatasi masalah pencernaan, menenangkan otak, baik untuk mata, meringankan penyakit tenggorokan, membantu menghilangkan parasit dari usus, meredakan pembengkakan, dan mempercepat penyembuhan patah tulang. Selain itu, konsumsi bawang putih juga diyakini dapat menangkal racun dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap berbagai jenis penyakit.
  4. Nimba. Nimba kerap digunakan sebagai pembersih alami yang terbukti dapat membersihkan kulit dari jerawat, flek hitam, dermatitis, dan sebagainya, lantaran sifat nimba yang mampu mengeluarkan racun dari tubuh. Untuk mendapatkan manfaat yang optimal, pengobatan dengan nimba perlu dilakukan dari luar dan dalam. Konsumsi nimba dalam keadaan perut kosong dipercaya mampu membersihkan darah dan mengurangi panas tubuh yang berlebihan. Nimba juga memiliki sifat antiseptik alami yang berguna dalam penyembuh luka.
  5. Kunyit. Dalam Ayurveda, kunyit digunakan sebagai obat adalan untuk mengobati alergi, penyakit kulit, pembengkakan, detoksifikasi, hingga cedera. Umumnya, sebelum digunakan kunyit harus dibakar terlebih dahulu, setelah itu baru kunyit digunakan sesuai dengan fungsinya. Saat ini telah banyak penelitian yang dilakukan untuk mengetahui kandungan serta manfaat dari kunyit, dan telah banyak yang membuktikan bahwa rempah yang umum digunakan dalam bidang kuliner dan pengobatan tradisional ini mengandung banyak senyawa yang bermanfaat untuk kesehatan, seperti antioksidan, antiinflamasi, vitamin C, zat besi, dan berbagai nutrisi penting lainnya.
  6. Jintan: Jintan ini adalah bumbu ayurveda yang biasa digunakan untuk menambah rasa pada makanan. Rempah ini dapat mengurangi gejala IBS, meningkatkan faktor risiko diabetes tipe 2 dan penyakit jantung, bahkan mungkin menawarkan perlindungan terhadap infeksi bawaan makanan.
  7. Jahe Bang: Untuk pengobatan Rematik,mual dan penghangat tubuh,obat batuk, sesak napas, liver, bengkak pada kaki/tangan.
  8. Pule: Untuk penyakit Beri-beri,badan lesu, sakit pinggang/tulang, sakit kepala.
  9. Kayu Urip, Cocor Bebek: Sangat baik untuk Penurun panas, panas dalam, muntah darah, penyakit kulit,borok, luka
  10. Mahkota Dewa: Menurunkan tekanan darah,penghilang bau badan,kencing manis.
  11. Isen Kapur (Languas): Sakit kepala, batuk, panu, diare, penurun panas, rematik.
  12. Tapak Dara : Daunya untuk Diabetes, hiper-tensi, leukemia, luka baru, bisul/bengkak. Bunganya untuk Kanker,bisul/bengkak.
  13. Delima : Buahnya gagus untuk jantung, dan Daunnya untuk mengobati Sesak napas, batuk, luka dalam.
  14. Jeruk Nipis: Buahnya untuk obat batuk, Semntara daunnya untuk sakit kepala dan perut.
  15. Daun Landep: Daunnya Rematik, sakit kepala, sakit pinggang, sakit gigi, gusi nyeri dan berdarah,demam, sakit perut, kending sedikit. Sementara Akarnya dapat untuk obat Luka, kurap, panu.
  16. Belimbing Wuluh: Menurunkan hipertensi,maag, penyakit dalam, batuk.
  17. Daun Jangu: Penurun panas, sakit perut dan kulit.
Zingiber officinale

Merupakan tanaman herba tahunan, tegak, dengan rhizome yang tebal dan berdaging berwarna kuning pucat, beraroma. Batang tegak, tidak bercabang, berwarna hijau pucat, kadang kemerahan di pangkalnya. Perbungaan langsung dari rimpang (Sutarno et al. 1999). Tanaman ini yang paling banyak digunakan adalah rimpang.

Di beberapa lokasi di Bali dikenal sebagai jahe bang. Di Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng Z. officinale ini digunakan masyarakat untuk mengobati sakit batuk atau sesak napas.

Caranya umbi ditumbuk kemudian dicampur air matang dan diminum. Di Kabupaten Bangli umbinya dimanfaatkan untuk mengobati rematik dan mengatasi mual serta menghangatkan tubuh. Selain berfungsi sebagai obat, seluruh bagian tanaman Z. officinale dapat digunakan sebagai penolak roh jahat oleh masyarakat di Kabupaten Buleleng.

Menurut Sutarno et al. (1999) umbi Z. officinale digunakan untuk mengatasi berbagai penyakit diantaranya mual, diare, disentri, gangguan gastro-intestinal lainnya, demam, dan batuk. Lanjutnya rimpang Z. officinale memiliki kandungan diaphoretic, diuretic, anti-inflammatory, anti-emetic dan sialogogic dan digunakan sebagai emmenagogue, abortifacient dan vermifuge, dimana ini dapat berfungsi sebagai aphrodisiac.

Alstonia scholaris

Habitus berupa pohon dengan tinggi 10‒50 m. Batang tegak, berkayu, percabangan menggarpu, dan berwarna hijau gelap. Daun tunggal, bentuknya lanset, ujungnya membulat, dan pangkalnya meruncing, tepinya rata, panjang daun 10‒20 cm dan lebar 3‒6 cm, pertulangan menyirip, permukaan atas licin, panjang tangkai ±1 cm dan warnanya hijau. Bunga majemuk, bentuknya malai, terdapat di ujung batang, bentuk kelopak bunga bulat telur, panjang tangkainya 2,5‒5 cm, berambut, dan warnanya hijau.

Benang sari melekat pada tabung mahkota dengan panjang tangkai putik 3‒5 mm, kepala putik meruncing, bakal buah berbulu, dan berwarna putih. Bentuk tabung mahkota bunga bulat telur dengan panjang 7‒9 mm dan berwarna putih kekuningan. Buah bumbung dengan bentuk pita dan panjangnya 20‒50 mm, warnanya putih.

Biji kecil dengan panjang 1,5‒2 cm dan berwarna putih. Akar tunggang dan berwarna cokelat. Berdasarkan hasil penelitian farmakologi senyawa dalam tumbuhan ini memberi efek antidiabetik, antihiperlipidemik, antibakterial, antioksidan, antikanker, antiinflamatori dan analgesik, imunostimulating, antitussif, antiasmatik, ekspektoran, hepatoprotektif, dan antidepresan (Pankti et al. 2012). Di Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, kulit batang Alstonia dapat digunakan sebagai obat beri-beri.

Masyarakat di Kabupaten Bangli juga menggunakan kulit batang A. scholaris sebagai obat bengkak dan sakit pinggang/tulang. Daunnya dimanfaatkan sebagai obat penurun panas, caranya daun direbus dan diminum airnya sekali dalam seminggu. Daun A. scholaris juga dimanfaatkan masyarakat di Kabupaten Karangasem untuk mengobati sakit batuk.

Kalanchoe pinnata

Merupakan anggota suku Crassulaceae. Herba tahunan ini berasal dari Madagaskar, kemudian tersebar diseluruh daerah tropis lainnya. Tanaman berbatang basah, daun tebal karena banyak mengandung air, bentuk daunnya lonjong atau bundar panjang, panjang 5‒20 cm, lebar 2,5‒15 cm, ujung daun tumpul, pangkal membundar, pinggirannya beringgit permukaan daun gundul, warna hijau sampai hijau keabuabuan.

Bunga berkelompok di bagian ujung percabangan. Bunga berbentuk tabung memberikan kombinasi warna hijau dan merah pada helaian kelopak dan mahkotanya (Hidayat et al. 2008). Daunnya dapat dibuat bubur yang merupakan obat yang baik untuk mendinginkan bagian-bagian badan yang panas (Heyne 1987). Daunnya digunakan untuk mengobati demam dan bisul oleh masyarakat disekitar hutan Tabo-tabo (Hamzari 2008).

Kalanchoe pinnata merupakan tanaman untuk mengobati segala penyakit oleh masyarakat lokal Amazon, Suku Creole menggunakan daun yang dipanggang matahari untuk kanker dan inflamasi; daun Kalanchoe umum digunakan untuk meredakan demam (panas tinggi); akarnya juga digunakan sebagai infusion dan digunakan untuk epilepsy.

Hasil penelitian fitokimia Kalanchoe pinnata menunjukkan kehadiran bahan alkaloids, flavonoids, karbohidrat, saponin, triterpines, phytosterols, tannin, glikosid, protein, asam amino, dan fenolik (Matthew et al. 2013). Kandungan farmakologi meliputi antidiabetik, anti-neoplastic, antioxidant, immunomodulation, antilipidaemik, anti-allergic (Majaz et al. 2011). Penggunaan K. pinnata sebagai penurun panas di Kabupaten Bangli yang digunakan batang dan daun. Caranya daun ditumbuk dan dioleskan pada dada dan di bawah ketiak, sedangkan di Kabupaten karangasem yang digunakan adalah daunnya. Daun K. pinnata juga dimanfaatkan untuk pereda panas dalam, mengobati penyakit kulit, borok, dan luka.

Phaleria macrocarpa 

Tumbuhan berbentuk pohon, berumur panjang (perenial), tinggi 1‒2,5 m. Akar tung-gang. Batang berkayu, silindris, tegak, warna cokelat, permukaan kasar, percabangan simpodial, arah cabang miring ke atas. Daun tunggal, bertangkai pendek, tersusun berhadapan (folia oposita), warna hijau tua, bentuk jorong hingga lanset, panjang 7‒10 cm, lebar 2‒ 2,5 cm, helaian daun tipis, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, pertulangan menyirip (pinnate), permukaan licin, tidak pernah meluruh Bunga tunggal, muncul di sepanjang batang dan ketiak daun, bertangkai pendek, mahkota berbentuk tabung (tubulosus) berwarna putih. Buah bulat, panjang 3‒5 cm, buah muda berwarna hijau setelah tua menjadi merah, bentuk dengan biji bulat, keras berwarna cokelat, daging buah berwarna putih berserat, dan berair perbanyakan generatif (biji).

Informasi masyarakat di Kecamatan Sukasada dan Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng buah yang masak dapat digunakan sebagai obat tekanan darah tinggi. Daging buah diiris kemudian diseduh air panas dan diminum. Selain itu juga dapat menghilangkan bau badan. Di Kabupaten Bangli, buah masak yang sudah dikeringkan dapat digunakan untuk mengobati kencing manis.

Di dalam kulit buah mahkota dewa terkandung senyawa alkaloid, saponin, dan flavonoid, sementara dalam daunnya terkandung alkaloid, saponin, serta polifenol. Gotama et al. (1999) juga melaporkan bahwa senyawa saponin diklasifikasikan berdasarkan struktur aglikon ke dalam triterpenoid dan steroid saponin.

Kedua senyawa tersebut mempunyai efek anti inflamasi, analgesik, dan sitotoksik, sedangkan hasil penelitian Ali et al. (2012) ini membuktikan adanya antidiabetes dari pericarp buah P. macrocarpa.

Languas galanga

Tanaman herba tahunan hingga ketinggian 3‒5 m, dengan rimpang yang berwarna merah terang atau kuning pucat, beraroma, diameter 2‒4 cm. Daun alternate, perbungaan di ujung,tegak, banyak bunga, racemosa (Scheffer and Jansen 1999). Tana-man ini dikenal sebagai isen kapur di Kabupaten Bangli dimanfaatkan rimpangnya untuk mengobati sakit panas dan rematik.

Di Kabupaten Karangasem rimpangnya dimanfaatkan sebagai obat panu yaitu dengan cara menggosok rimpangnya pada bagian kulit yang ada panunya dan sebagai obat batuk dengan cara rimpang diparut, ditambah garam dan jeruk lengis, lalu direbus di air mendidih kemudian diminum.

Rimpang L. galanga menurut Scheffer and Jansen (1999), digunakan untuk mengatasi penyakit kulit, gangguan pencernaan, kolik, disentri,pembesaran limpa, penyakit pernafasan, kanker mulut dan perut. Menurut Kaushik et al. (2011), L. galanga memiliki fungsi anti-imflammatori dan analgesik, berpotensi sebagai antikanker dan antimelanogenik, antileishmanial, dan antimikrobial.

Catharanthus roseus

Habitus berupa tumbuhan semak, tahunan, tegak dengan tinggi 1‒2 m. Batang berkayu, bulat, bercabang, beruas dan berwarna hijau. Daun tunggal, letaknya silang berhadapan, berbentuk bulat telur dengan ujung terdapat getah dan pangkal tumpul, tepi rata, mengilat, tangkai panjang 2‒6 cm, lebar 1‒3 cm, pertulangan menyirip, berwarna hijau.

Bunga tunggal, terletak di ketiak daun, mahkota berbentuk terompet, tangkai panjang 2,5‒3 cm, kelopak bertajuk lima, bentuk runcing. Benang sari lima, kepala sari berwarna kuning, tangkai putik putih.

Buah kotak dengan bentuk pipih, saat masih muda berwarna hijau setelah tua berwarna cokelat. Biji kecil, keras, dan berwarna cokelat. Akar berupa akar tunggang dan berwarna putih.
Berdasarkan penelitian Ibrahim et al. (2011), ekstrak tumbuhan C. roseus memiliki aktivitas antibakterial dan antidiabetik.

Di Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, daunnya C. roseus dapat dimanfaatkan untuk obat hipertensi, diabetes, dan leukemia, caranya daun direbus dan diminum airnya selain itu daunnya juga dapat digunakan sebagai obat luka baru dan bisul atau bengkak, caranya daun ditumbuk hingga halus dan dioleskan di bagian yang luka. Informasi di Kecamatan Tejakula Kabupaten Buleleng bunga C. roseus dapat dimanfaatkan sebagai obat bisul/bengkak dengan cara dibuat boreh dan ditempel di bagian yang sakit.

Buku Amrita Kundalini
Meditasi dan Yoga

Amrita Kundalini

Detail Buku

Berbagi adalah wujud Karma positif